Masih Amankah
Sekolah Saat ini ?
Sebuah
pertanyaan yang akhir-akhir ini di perbincangankan para orang tua siswa melihat
banyaknya tindak kriminalitas di sekolah. Membuat mereka untuk lebih kritis
memilih sekolah mana yang cara pengajarannya baik bukan hanya dilihat dari dari
gedungnya yang bagus atau terkenal dengan ke-elit-annya Dilihat dari
realita yang terjadi dalam masyarakat ini. Banyak diantaranya menyadari jika sekolah merupakan sebuah
instuisi dalam dunia pendidikan yang memiliki tugas untuk meningkatkan
penguasaan informasi dan teknologi peserta didik. Fakta dari dunia pendidikan
sendiri, sekolah memang sebuah instuisi dalam dunia pendidikan tetapi tugasnya
bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi saja,
melainkan juga bertugas dalam pembentukan kapasitas pertanggungjawaban dan
pengambilan keputusan peserta didik. Pengajar dalam instuisi ini haruslah memiliki
karakter yang baik dan terpuji dalam mengajar sehingga mampu menyadari tugas
penting tersebut dan membimbing peserta didik agar mampu memiliki karakter yang
baik dan terpuji bukan hanya menjadi manusia yang cerdas dan berpengetahuan.
Disadari atau tidak, karakter terpuji yang dimiliki pengajar dan peserta didik dapat
merendam aksi kekerasan yang terjadi dewasa ini dalam lingkungan sekolah.
Pendidikan seperti ini diharapkan dapat menjadikan warga sekolah menjadi
manusia yang bermoral.
Dikutip
dari pernyataan seorang Hakim Agung di Amerika, Antonin Scalia, yang pernah
mengatakan, “Bear in mind that brains and learning, like muscle and physical
skills, are articles of commerce. They are bought and sold. You can hire them
by the year or by the hour. The only thing in the world NOT FOR SALE IS
CHARACTER. And if that does not govern and direct your brains and learning,
they will do you and the world more harm than good”. Scalia menunjukkan dengan
tepat bagaimana karakter harus menjadi pondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan.
Sebab kecerdasan dan pengetahuan memang dapat diperjualbelikan tetapi tidak
untuk karakter.
Ketidakseimbangan
karakter dan pengetahuan memberikan dampak yang buruk terhadap peserta didik.
Seseorang yang mempunyai pengetahuan tinggi belum tentu mempunyai karakter terpuji.
Alhasil, timbullah berbagai macam bentuk kriminalitas dalam dunia sekolah,
entah itu dilakukan oleh pengajar terhadap peserta didik ataupun oleh sesama
peserta didik. Keduanya memberikan pencitraan buruk terhadap sekolah yang pada
awalnya menciptakan manusia-manusia yang bermoral dan berbudi pekerti. Sekolah
yang bisa dibilang baik ataupun bertaraf internasional tidak menjamin semua
warga sekolahnya mempunyai karakter yang baik pula.
Sebut
saja kasus yang marak terjadi baru-baru ini. Sebuah sekolah yang bertaraf
internasional, JIS (Jakarta Internatioanal School) telah menjadi banyak
perbincangan publik. Publik sendiri tidak menyangka, sekolah yang mempunyai
sistem keamanan yang ketat telah ternodai dengan kasus yang menimpa beberapa
siswanya. Ini berarti memberi banyak kemungkinan masih banyak tindak
kriminalitas yang terjadi di sekolah-sekolah lain yang tidak mempunyai sistem
keamanan yang ketat seperti JIS (Jakarta International School).
Tindak
kriminalitas di dalam JIS (Jakarta International School) termasuk
kejahatan seksual yang dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak. Dengan tidak
langsung kasus tersebut menjadi pembuka kasus-kasus kejahatan seksual lainnya. Publik
saat ini telah dikagetkan dengan banyaknya kasus kejahatan seksual terhadap
anak-anak setara siswa SD. Kasus tersebut dapat berdampak kepada psikologi anak
yang tak mudah untuk disembuhkan karena ini menyangkut ke dalam gangguan
kejiwaan anak-anak. Kesemuanya dilakukan terhadap peserta didik yang tidak
jarang bekerjasama dengan warga sekolahnya itu sendiri.
Seperti
yang dipaparkan Ketua presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S.Pane
kepada Harian Terbit. “pihak sekolah dan pengajar yang lalai melindungi anak
didiknya hingga terjadilah pemaksaan dan kekerasaan pada korban kejahatan
seksual, juga bertanggung jawab. Dampak psikolog bagi anak-anak korban
kejahatan seksual, termasuk sodomi memang sangat tragis dan berkepanjangan”. Neta
S.Pane salah satu dari banyaknya pakar hukum yang sangat mengkhawatirkan
psikologi anak-anak dan menganggap pihak sekolah terutama kepala sekolah yang
harus bertanggung jawab terhadap semua kejadian yang terjadi di dalam JIS (Jakarta
International School).
Tidak
hanya kasus JIS (Jakarta International School) yang menjadi bentuk
kriminalitas sekolah, melainkan masih banyak lagi. Salah satunya mengenai
kekerasan fisik terhadap warga sekolah. Kekerasan tersebut saat ini sangatlah
mudah dilihat di televisi karena kekerasan di sekolah merupakan tema yang laris
dijual oleh beberapa produser sinetron di negeri ini. Padahal kekerasan
merupakan salah satu kata yang seharusnya tidak boleh terdengar atau bahkan
terjadi di lingkungan yang melahirkan manusia-manusia kritis yang berbudi
pekerti luhur ini. Dengan kata lain acara televisi saat ini banyak yang memberikan
pencitraan buruk terhadap perkembangan pelajar terutama anak-anak.
Kasus
diatas menjadi salah satu contoh dari banyaknya kasus yang terjadi di
Indonesia. seperti yang telah dipaparkan Pengamat Pendidikan Darmaningtyas
terhadap detik.com. “Lebih tepatnya pendidikan bukan melahirkan orang yang
beradab tapi memproduksi budaya kekerasan sehingga tidak menjamin rasa aman dan
nyaman pada anak”. Beliau sangat khawatir dengan banyaknya kasus kekerasan yang
terjadi pada pendidikan Indonesia.
Maka
untuk menciptakan manusia-manusia kritis yang berbudi pekerti luhur, harus
adanya kerja sama antara pihak sekolah, keluarga bahkan pemerintah. Sekolah
harus mampu menanamkan rasa kasih sayang antara sesama agar terhindarnya permusuhan
yang akan mengakibatkan kekerasan yang berkepanjangan. Keluarga harus mampu
membatasi pergaulan dan mengawasi semua aktivitas anggota keluarganya terutama
anak yang masih dibawah umur terhadap hiburan yang mereka pilih. Pemerintah pun
harus ikut bekerja sama dalam masalah ini, terutama dalam pemunculan acara
televisi. Memberikan peluang yang banyak terhadap acara-acara televisi yang
bertemakan pendidikan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menciptakan
siswanya sebagai manusia bermoral dan berbudi pekerti luhur, bukan hanya yang
menguasai ilmu teknologi saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar