Blogger Widgets khannadyah's diary: artikel kriminalitas

Kamis, 22 Mei 2014

artikel kriminalitas



Masih Amankah Sekolah Saat ini ?

Sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini di perbincangankan para orang tua siswa melihat banyaknya tindak kriminalitas di sekolah. Membuat mereka untuk lebih kritis memilih sekolah mana yang cara pengajarannya baik bukan hanya dilihat dari dari gedungnya yang bagus atau terkenal dengan ke-elit-annya Dilihat dari realita yang terjadi dalam masyarakat ini. Banyak diantaranya  menyadari jika sekolah merupakan sebuah instuisi dalam dunia pendidikan yang memiliki tugas untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi peserta didik. Fakta dari dunia pendidikan sendiri, sekolah memang sebuah instuisi dalam dunia pendidikan tetapi tugasnya bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi saja, melainkan juga bertugas dalam pembentukan kapasitas pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan peserta didik. Pengajar dalam instuisi ini haruslah memiliki karakter yang baik dan terpuji dalam mengajar sehingga mampu menyadari tugas penting tersebut dan membimbing peserta didik agar mampu memiliki karakter yang baik dan terpuji bukan hanya menjadi manusia yang cerdas dan berpengetahuan. Disadari atau tidak, karakter terpuji yang dimiliki pengajar dan peserta didik dapat merendam aksi kekerasan yang terjadi dewasa ini dalam lingkungan sekolah. Pendidikan seperti ini diharapkan dapat menjadikan warga sekolah menjadi manusia yang bermoral.
Dikutip dari pernyataan seorang Hakim Agung di Amerika, Antonin Scalia, yang pernah mengatakan, “Bear in mind that brains and learning, like muscle and physical skills, are articles of commerce. They are bought and sold. You can hire them by the year or by the hour. The only thing in the world NOT FOR SALE IS CHARACTER. And if that does not govern and direct your brains and learning, they will do you and the world more harm than good”. Scalia menunjukkan dengan tepat bagaimana karakter harus menjadi pondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan. Sebab kecerdasan dan pengetahuan memang dapat diperjualbelikan tetapi tidak untuk karakter.
Ketidakseimbangan karakter dan pengetahuan memberikan dampak yang buruk terhadap peserta didik. Seseorang yang mempunyai pengetahuan tinggi belum tentu mempunyai karakter terpuji. Alhasil, timbullah berbagai macam bentuk kriminalitas dalam dunia sekolah, entah itu dilakukan oleh pengajar terhadap peserta didik ataupun oleh sesama peserta didik. Keduanya memberikan pencitraan buruk terhadap sekolah yang pada awalnya menciptakan manusia-manusia yang bermoral dan berbudi pekerti. Sekolah yang bisa dibilang baik ataupun bertaraf internasional tidak menjamin semua warga sekolahnya mempunyai karakter yang baik pula.
Sebut saja kasus yang marak terjadi baru-baru ini. Sebuah sekolah yang bertaraf internasional, JIS (Jakarta Internatioanal School) telah menjadi banyak perbincangan publik. Publik sendiri tidak menyangka, sekolah yang mempunyai sistem keamanan yang ketat telah ternodai dengan kasus yang menimpa beberapa siswanya. Ini berarti memberi banyak kemungkinan masih banyak tindak kriminalitas yang terjadi di sekolah-sekolah lain yang tidak mempunyai sistem keamanan yang ketat seperti JIS (Jakarta International School).
Tindak kriminalitas di dalam JIS (Jakarta International School) termasuk kejahatan seksual yang dilakukan orang dewasa terhadap anak-anak. Dengan tidak langsung kasus tersebut menjadi pembuka kasus-kasus kejahatan seksual lainnya. Publik saat ini telah dikagetkan dengan banyaknya kasus kejahatan seksual terhadap anak-anak setara siswa SD. Kasus tersebut dapat berdampak kepada psikologi anak yang tak mudah untuk disembuhkan karena ini menyangkut ke dalam gangguan kejiwaan anak-anak. Kesemuanya dilakukan terhadap peserta didik yang tidak jarang bekerjasama dengan warga sekolahnya itu sendiri.
Seperti yang dipaparkan Ketua presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S.Pane kepada Harian Terbit. “pihak sekolah dan pengajar yang lalai melindungi anak didiknya hingga terjadilah pemaksaan dan kekerasaan pada korban kejahatan seksual, juga bertanggung jawab. Dampak psikolog bagi anak-anak korban kejahatan seksual, termasuk sodomi memang sangat tragis dan berkepanjangan”. Neta S.Pane salah satu dari banyaknya pakar hukum yang sangat mengkhawatirkan psikologi anak-anak dan menganggap pihak sekolah terutama kepala sekolah yang harus bertanggung jawab terhadap semua kejadian yang terjadi di dalam JIS (Jakarta International School).
Tidak hanya kasus JIS (Jakarta International School) yang menjadi bentuk kriminalitas sekolah, melainkan masih banyak lagi. Salah satunya mengenai kekerasan fisik terhadap warga sekolah. Kekerasan tersebut saat ini sangatlah mudah dilihat di televisi karena kekerasan di sekolah merupakan tema yang laris dijual oleh beberapa produser sinetron di negeri ini. Padahal kekerasan merupakan salah satu kata yang seharusnya tidak boleh terdengar atau bahkan terjadi di lingkungan yang melahirkan manusia-manusia kritis yang berbudi pekerti luhur ini. Dengan kata lain acara televisi saat ini banyak yang memberikan pencitraan buruk terhadap perkembangan pelajar terutama anak-anak.
Kasus diatas menjadi salah satu contoh dari banyaknya kasus yang terjadi di Indonesia. seperti yang telah dipaparkan Pengamat Pendidikan Darmaningtyas terhadap detik.com. “Lebih tepatnya pendidikan bukan melahirkan orang yang beradab tapi memproduksi budaya kekerasan sehingga tidak menjamin rasa aman dan nyaman pada anak”. Beliau sangat khawatir dengan banyaknya kasus kekerasan yang terjadi pada pendidikan Indonesia.
Maka untuk menciptakan manusia-manusia kritis yang berbudi pekerti luhur, harus adanya kerja sama antara pihak sekolah, keluarga bahkan pemerintah. Sekolah harus mampu menanamkan rasa kasih sayang antara sesama agar terhindarnya permusuhan yang akan mengakibatkan kekerasan yang berkepanjangan. Keluarga harus mampu membatasi pergaulan dan mengawasi semua aktivitas anggota keluarganya terutama anak yang masih dibawah umur terhadap hiburan yang mereka pilih. Pemerintah pun harus ikut bekerja sama dalam masalah ini, terutama dalam pemunculan acara televisi. Memberikan peluang yang banyak terhadap acara-acara televisi yang bertemakan pendidikan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menciptakan siswanya sebagai manusia bermoral dan berbudi pekerti luhur, bukan hanya yang menguasai ilmu teknologi saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar